Menu

Mode Gelap
 

Opini · 12 Jan 2023 14:49 WIB ·

Sistem Proporsional Terbuka Atau Tertutup, Untung Siapa?


 Sistem Proporsional Terbuka Atau Tertutup,  Untung Siapa? Perbesar

HarianMakassar.com – Pengaruh pemilihan terbuka memang perhelatan pemilihan umum menunjukkan dampaknya. Salah satunya praktik politik uang. Terbukti dengan sistem pemilihan terbuka, putaran uang beredar di tengah masyarakat itu sangat banyak. Bahkan putarannya dirasakan dan menggerus lapisan akar rumput.

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat pada setiap pemilihan umum memiliki peran yang penting. Pilar yang mempengaruhinya adalah keterlibatan masyarakat secara langsung dalam praktik politik.

Sesungguhnya kedewasaan berdomokrasi pada era modern saat ini memang sulit untuk dibendung. Demokrasi menampilkan wajahnya sebagai sebuah wadah yang menempatkan setiap individu sama rata. Setiap orang yang menganggap demokrasi itu ada harus mendapatkan tempat yang sama. Olehnya itu, asas keterbukaan yang muncul hari ini adalah jalan kuluar untuk mencapai kedewasaan dalam berdemokrasi.

Beberapa orang masih menggungat putusan Mahkamah Konsitusi (MK) terhadap Undang-Undang Tentang Pemilu terkait proporsional terbuka atau pemilihan terbuka. Langkah konstitusional seperti ini sangat dibenarkan jika terjadi, sisa MK melakukan uji materi.

Proporsional tertutup memang sangat menekan ongkos politik pada tahun 2024. Mungkin sisa uangnya bisa dialihkan ke program lain, IKN atau program jalan tol misalnya. Bahkan jikalau proporsional tertutup ini berhasil diterapkan perputaran uang pada rentetan 2023 sampai pemilihan umum tahun 2024 mungkin lebih minim. Bahkan negara juga bisa mengatur baliho, jadwal kampanye, bahkan uang yang keluar.

Tapi ini demokrasi. Asas keterbukaan dan elegatarian adalah wajah aslinya. Memang secara langsung tidak ada nilai yang ditutup. Tapi prinsipnya beberapa orang diberikan keterbatasan ruang untuk berpartisipasi. Termasuk anak-anak muda.

Komposisi caleg diatur oleh internal partai politik, secara tidak langsung keterlibatan anak muda yang ingin terlibat akan dibatasi oleh beberapa kader-kader tulen yang sudah mendarah daging di partai politik. Sehingga caleg-caleg muda ini tidak terlalu percaya diri. Bahkan juga kekuatan kuasa berada pada keluarga penguasa, bisa saja yang menjadi ketua partai menempatkan anak ponakan, dan saudaranya pada posisi di setiap daerah pemilihan yang ujungnya mereka semualah yang duduk sebagai pemenang pemilu.

Sangat beda jika pemilihan terbuka diterapkan seperti pada tahun 2009,2014, dan 2019. Masing-masing caleg memiliki posisi starting yang sama, sehingga semua caleg bisa bekerja dengan caranya sendiri, membangun massa sendiri, bahkan lahir loyalitas yang bisa mendobrak elektabilitas partai.

Bahkan sistem proporsional terbuka menjadikan keterlibatan anak muda dalam dunia politik pada setiap momentum pemilihan itu meningkat dan ini menimbulkan euforia tersendiri agar anak muda bergairah untuk terjun langsung dalam dunia politik.

Oleh : Ahmad Takbir Abadi

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Cawe-Cawe Anak Muda dan Elnino Politik

15 Agustus 2023 - 12:38 WIB

Reinkarnasi Latto-latto : Sebuah Probabilitas dan Restriktif

13 Januari 2023 - 07:16 WIB

Muda “BERANI’ Menjemput Pentas Politik

27 Desember 2022 - 07:04 WIB

Menuju Rakornas Solo, GenPi Membawa Kekuatan Baru

4 November 2022 - 09:46 WIB

Muhammad Jabbar di Mata Keluarga dan Sahabat

25 Juni 2022 - 17:23 WIB

Prof Sukri Palutturi Jempol Andi Sudirman Percepat Booster di Sulsel

18 Juni 2022 - 07:26 WIB

Trending di Opini